Tuesday, April 6, 2010

بسم الله الرحمن الرحيم

BERSIKAP KERAS TERHADAP AHLUL BIDA' BUKANLAH PENYELISIHAN

WAHAI SALAFIYYIN

Oleh: Abu Abdurrahman siddiq bin Muhammad Al-Bugisi

Tholib di Darus Hadith Dammaj, Yemen

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله, أما بعد:

            Bahkan hal itu adalah manqobah (keutamaan) di sisi ahlus sunnah yang sejati, mari kita simak ucapan Al-Akh Yusuf Al-Jazairi -hafidzohulloh- sebagaimana pada artikel beliau yang telah dibaca dan diijinkan penyebarannya oleh Syaikhuna Yahya bin 'Ali Al-Hajuri hafidzahullah yang berjudul "Jinayah Abdirrohman wa hizbihi …" hal. 42-52:[1]

Beliau berkata:

 [Termasuk Kejahatan Mereka (yaitu para hizbiyyun baru) Terhadap Manhaj Ahlus Sunnah Dalam Jarh dan Ta'dil Adalah:

MEREKA MENGANGGAP BAHWA SIKAP KERAS TERHADAP AHLUL BIDA' ADALAH PENYELISIHAN

 

        Di mana mereka menyebutkan pada makalah mereka dari apa-apa yang mereka benci dari Syaikh Yahya hafidzahullah:

 

"Celaannya yang keras terhadap para penyelisih manhaj salaf!!!!"

 

        Dan ini termasuk rintihan mereka (hizbi baru) yang bertujuan melembekkan manhaj salaf, tanpa mereka sadari membongkar kebobrokan manhaj mereka yang jauh (dari kebenaran –pent), di mana tidaklah diketahui seorang Alim salafipun yang memiliki wawasan dan pemahaman terhadap manhaj salaf dari dulu sampai sekarang yang berpendapat bahwa sikap keras terhadap Ahlul Ahwa adalah kekurangan yang dibenci karenanya!! Bahkan yang diketahui adalah sorakan seperti ini hanyalah timbul dari Ahlul Bida' dan Ahwa yang terpuruk, dan menuduh Ahlus Sunnah dengan tuduhan (miring) semacam ini merupakan tanda kesesatan pada si penuduh yang paling jelas pada dewasa ini.

 

        Al-Allamah Rabi' bin Hadi Al-Madkhali berkata: (Sesungguhnya Ahlul ahwa dewasa ini berdalih dengan kalimat "FULAN SANGAT KERAS" yang mana mereka mengatakan itu guna melarikan manusia dari kitab-kitab orang tadi. Apakah para salaf dulunya apabila mengatakan bahwa Fulan memiliki sikap keras terhadap Ahlul bida' itu adalah celaan baginya?! Ataukah mereka menginginkan dengan ucapan itu untuk menghalang-halangi dari jalan Allah sebagaimana yang dilakukan oleh para pengekor hawa nafsu sekarang ini?! [Al-Ajwibah As-Salafiyyah 'ala Asilah Abi Rawahahah, hal. 19]

        Dulunya sikap keras terhadap Ahlul Bida' itu merupakan ciri khas Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang paling menonjol dan merupakan hal yang terpuji, keutamaan yang besar bagi mereka serta teranggap sebagai karunia Allah dan juga termasuk bekal yang besar di hari kiamat kelak, yang mana dengan sikap keras tersebut Alloh menghinakan Ahlul Ahwa dan memenangkan Ahlus sunnah atas mereka.

        Ibnu Abdil Hadi : mengisahkan Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah: (Beliau dahulunya bagaikan pedang yang terhunus terhadap para penyelisih dan duri di leher-leher ahlul ahwa para pelaku bid'ah) [Al-'Uqudud Durriyyah hal 7)

        Dan Badrud Dien Al-'Aini menyifati Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah :: (Beliau bagaikan Pedang yang terhunus terhadap para pelaku bid'ah, sebagaimana pada "Ar-Roddul Wafir" hal. 262

        Adz-Dzahabi berkata dalam biografi Abil Mudzfir As-Sam'ani: (Dan beliau dahulunya adalah duri di mata para penyelisih akan tetapi hujjah bagi ahlis sunnah) "As-Siyar 19/116".

        Demikian pula Imam Ibnul Qoyyim mehikayatkan manhaj para sohabat dalam menghadapi Ahlul Ahwa, beliau mengatakan: (Ibnu Abbas dahulunya keras terhadap pelaku bid'ah qodariyyah dan demikian juga shohabat lainnya) "Syifaul 'Alil" hal. 60, dan ungkapan-ungkapan mereka dalam bab ini banyak, sulit untuk menghitungnya.

        [Apakah setelah semua ini boleh bagi seseorang untuk mencerca seorangpun dari kalangan ahlus sunnah disebabkan memiliki sifat salafiyyah semacam ini?!! Apabila ia tetap mencelanya berarti si miskin ini tidak sadar bahwa dia dengan celaannya itu, telah mencela para salaf terutama Shohabat sebagaimana telah lewat penukilan kami tentang mereka!! Maka hendaknya orang-orang yang mengaku ahlus sunnah itu bertakwa kepada Alloh sementara mereka tidak menolong dan membela pengembannya dengan al-haq dan ilmu, di sisi lain mereka malah melindungi dan loyal terhadap ahlul bida' dan memancangkan permusuhan hanya karena (ahlus sunnah bersikap keras terhadap) mereka..]!![2]

    

 [Teriakan Tamyi'iyyah ( yang Bertujuan untuk Melembekkan Manhaj Salaf) Berikutnya Dan Seruan Untuk Bersikap Lemah Lembut Terhadap Ahlul Bid'ah Dan Ahwa]!!

 

            Ini juga termasuk rintihan dan kesakitan mereka terhadap manhaj ahlus sunnah ketika membantah Ahlul bida' dan sikap keras mereka terhadap ahlul bida' serta tidak ridhonya mereka dengan metode ini.

            Hizbi yang terpuruk berkata di hal. 18:

(الجرح  ينبغي أن يقتصر فيه على ما تدعو الحاجة إليه ولا يجوز في الجرح لدرجة التهكم والتشفي وذكر ما لاداعي من ذكره كما بين ذلك العلماء في كتبهم، قال السخاوي في (الإعلان والتوبيخ) ص(125): (وإذا أمكنه بالإشارة المفهمة أو بأدنى تصريح، لا تجوز الزيادة على ذلك فالأمور المرخص فيها للحاجة لا يرتقي فيها إلى زائد على ما يحصل به الغرض)  [ثم ذكروا كلامًا للباجي يأتي التعليق عليه] والشيخ يحيى أصلحه الله لربما لم ينضبط بهذا الضابط العلمي فجعل لسانه تخوض فيما لا داعي من ذكره أو بيان وصفه كل ذلك بحجة أن المخالفين من الحزبيين)!!

"Celaan itu seyogyanya hanya sekedar hajat dan tidak boleh dalam menjarh sampai ke tingkat mengolok-ngolok dan memuaskan diri lalu akhirnya menyebutkan suatu yang tidak perlu untuk disebutkan sebagaimana ulama telah menjelaskan hal itu pada kitab-kitab mereka, As-Sakhowi pada (Al-'Ilan wa At-Taubikh) hal 125: (Dan jika memungkinkannya hanya dengan isyarat yang difahami atau dengan penjelasan ringkas, maka tidak boleh menambah dari itu, jadi yang dibolehkan adalah sesuai dengan kebutuhan tidak lebih dari itu yang penting dengannya tercapai maksud) [kemudian mereka menyebutkan ucapan Al Bajiy akan datang sanggahannya] dan Syaikh Yahya –Ashlahahullôh- terkadang tidak komitmen dengan kaidah ilmiyyah ini, akhirnya lisannya melontarkan apa yang tidak perlu untuk disebutkan atau dijelaskan sifatnya, semua itu dengan alasan bahwasanya para penyelisih itu dari kalangan hizbiyyin"!!

Pada ucapan ini terdapat beberapa hal yang menyelisihi kebenaran di antaranya:

1-     Penyamarataan antara posisi membantah dan posisi menjelaskan perihal terbuktinya orang yang dijarh dan posisi kapan seseorang itu boleh disebutkan kejelekannya setiap saat. Dan posisi mana yang tidak seyogyanya hal itu dilakukan?!! dan kebodohan mereka terhadap manhaj salaf pada perkara ini!! di mana metode salaf dan para imam setelahnya sangatlah jelas dalam posisi membantah ahlul ahwa di mana mereka menulis pada permasalahan ini kitab-kitab tersendiri dalam kritikan-kritikan mereka terhadap ahlul bida', mereka tidak mencukupkan dengan isyarat yang dapat difahami dan sedikit penjelasan (saja)!! sebagaimana yang diinginkan oleh hizbiyyah baru ini, bahkan engkau dapati mereka mendatangkan berpuluh-puluh kritikan yang diiringi dengan banyak ungkapan jarh dan hal ini tidaklah asing lagi bagi kita semua karena begitu jelasnya hal ini.

Dan Syaikh Robi' telah ditanya sebagaimana pada (Ajwibah ala Asilah Abi Rowahah) hal (28-29): (Apakah termasuk dari manhaj salaf mengumpulkan kesalahan seseorang dan menulisnya dalam kitab untuk dibaca oleh manusia!! jawabannya: Subhanalloh ucapan ini hanyalah diucapkan oleh orang-orang sesat untuk melindungi kebid'ahan-kebid'ahan, kitab-kitab dan manhaj mereka serta melindungi orang-orang yang dikultuskan oleh mereka, na'am Alloh dan RosulNya ص telah menyebutkan sekian banyak dari kesesatan-kesesatan mereka, (Alloh) mengumpulkan perkataan-perkataan orang-orang Yahudi dan Nashoro dan mengkritik mereka pada sekian banyak ayat-ayat Al-Qur'an demikian juga ahlus sunnah sejak awal sejarah mereka sampai dewasa ini, mereka menjarh Jahm bin Shofwan dan Bisyr Al Murisiy dan mengumpulkan bid'ah-bid'ah dan kesesatan-kesesatan mereka…), dan sisi pendalilan dari ucapan ini adalah bahwasanya perkara jarh itu tak henti-hentinya terdapat dalam kitab dan sunnah serta ucapan para imam, di mana Alloh Ta'ala mengumpulkan ucapan-ucapan orang Yahudi dan Nashoro disertai dengan kritikannya, dan telah diketahui bersama bahwa dengan metode seperti ini tercapailah tujuan jarh untuk mereka dan penjelasan hal mereka, tidak mencukupkan hanya dengan isyarat yang difahami dan penjelasan yang paling sedikit!! sebagaimana yang diinginkan oleh hizbi Abdirrohman (Al Adeni) untuk ditempuh oleh Ahlus sunnah!!

Amatilah perkataan Alloh Ta'ala:

﴿ولا تطع كل حلاف مهين هماز مشاء بنميم مناع للخير معتد أثيم عتل بعد ذلك زنيم﴾ الآيات

            "Dan janganlah engkau menaati/ikuti semua orang yang banyak bersumpah lagi hina, suka mencela dan berjalan dengan  menghambur namimah (ghibah/fitnah) serta enggan berlaku kebaikan, melampaui batas lagi sering melakukan dosa, yang kasar selain dari itu dikenal sangat jahat." al ayaat.

            Inilah sepuluh ibarat jarh yang ditujukan terhadap satu orang, di mana telah datang (hadits) di Shohih Al-Bukhori nomor (4917) dari hadits Ibnu Abbas ط bahwasanya ayat tersebut diturunkan untuk menerangkan keadaan seorang laki-laki asal Quroisy yang dikenal sangat jahat dan suka mencela, sebagaimana dikenalnya kambing yang digantungkan kalung dilehernya.

            Hadits ini juga memiliki jalan di sisi At-Thobary (pada tafsirnya) (17/29) yang menjelaskannya dari ibni Abbas pada perkataan Alloh Ta'ala: ﴿بعد ذلك زنيم﴾  "selain dari itu sangat jahat." beliau berkata: Ayat ini diturunkan kepada Nabi ص:

﴿ولا تطع كل حلاف مهين هماز مشاء بنميم﴾

            "Dan janganlah engkau menaati/ikuti semua orang yang banyak bersumpah lagi hina, suka mencela dan berjalan dengan  mengumbar namimah (ghibah/fitnah)."

            Namun kami tidak mengetahui siapa orang yang dimaksud ayat ini hingga diturunkan kepada Nabi ص: ﴿بعد ذلك زنيم﴾"selain dari itu dikenal sangat jahat." akhirnya kamipun tahu siapa yang dikenal dengan kejahatannya yang sangat sebagaimana dikenalnya seekor kambing yang dikalungi." Dan isnadnya hasan dengan sebelumnya, lihat (Al Istiy'aab fi bayanil Asbab) (3/453-454).

Dan begitu juga perkataan Alloh Ta'ala:

﴿واتلُ عليهم نبأ الذي آتيناه آياتنا فانسلخ منها فأتبعه الشيطان فكان من الغاوين ولو شئنا لرفعناه بها ولكنه أخلد إلى الأرض واتبع هواه فمثله كمثل الكلب إن تحمل عليه يلهث أو تتركه يلهث ساء مثل القوم الذين كذبوا بآياتنا﴾

        "Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah kami beri ayat-ayat kami kemudian dia meninggalkannya, lalu dia diikuti oleh Syaithon maka jadilah dia termasuk dari orang-orang yang sesat. dan kalau kami menghendaki sungguh kami akan mengangkat (derajat)nya dengan ayat-ayat tersebut, namun ia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya, maka jadilah perumpamaannya bagaikan anjing jika kamu menguasainya ia menjulurkan lidahnya dan apabila kamu membiarkannya dia (juga) menjulurkan lidahnya, demikian itulah permisalan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami."

        Di ayat ini terdapat kurang lebih tujuh ibarat jarh secara berurutan dalam menjarh orang yang disifati juga, telah datang di sisi An Nasa'i di (tafsirnya) (212,214), dan Ath Thobary (9/83) dan selain keduanya dari hadits Abdillah bin Amr bin Ash م bahwasanya ayat ini diturunkan untuk menerangkan keadaan Umayyah bin Abish Sholt Ats Tsaqofi, dan dishohihkan oleh Ibnu Katsir pada (Tafsirnya).

        Dan telah datang juga di sisi An Nasa'i (213) dan Ath Thobari (9/82) dan selain keduanya dari hadits Ibnu Mas'ud ط, beliau berkata dia adalah Bal'am bin Abarr seorang laki-laki asal Yaman, dan sanadnya juga shohih dan lihat (Al Istiy'aab) (2/169).

        dan seperti ini banyak dalam Al-Qur'an dan Sunnah dan juga pada ungkapan para imam sejak masa salafunash sholeh sampai masa sekarang ini, Berkata Imam Asad bin Musa rahimahullah dalam suratnya kepada Asad bin Al-Furat ::

اعلم أي أخي إنما حملني على الكتابة إلي ما ذكره أهل بلدك من صالح ما أعطاك الله من إنصافك على الناس وحسن حالك مما أظهرت من السنة وعيبك لأهل البدعة وكثرة ذكرك لهم وطعنك عليهم..).

"Ketahuilah  hai saudaraku, sesungguhnya yang mendorong aku untuk menulis surat buatmu adalah apa yang telah disebutkan oleh penduduk negerimu tentang kebaikan yang telah Allah karuniakan untukmu berupa sikap adilmu terhadap manusia dan baiknya keadaanmu yang senantiasa mencerminkan sunnah dan selalu mengkritik (ahlul bid'ah), menyebut-nyebut mereka dengan kejelekan dan mencela mereka..).

        Dan ini adalah nash dari Imam ini bahwasanya mereka menganggap banyak mencela ahlul bida' termasuk keutamaan!! maka di mana kelompok Abdirrohman dari manhaj salaf?!!

        Adapun yang disebutkan oleh para imam pada kitab-kitab Jarh wat Ta'dil apabila ditanya tentang hal sebagian perawi dari ahlul bida' atau selain mereka karena sesungguhnya mereka menyebutkan intisari keadaan mereka yang diketahui di sisi mereka, lalu mereka menyebutkannya dengan ibarat yang paling ringkas karena setiap posisi ada ucapan yang sesuai dengan porsinya,  di samping itu engkau terkadang mendapati dalam kitab-kitab Jarh wat Ta'dil bahwa mereka beruntun menyebutkan lafadz-lafadz jarh, terutama terhadap ahlul bida' sebagai bentuk penghinaan dan peremehan terhadap mereka, dan akan datang pembahasan mengenai hal itu dan faktor-faktor hizbi baru ini mencampur-baur pada bab ini adalah terlalainya mereka dari target syar'i ini.

        Adapun ucapan Al Bajiy -rohimahulloh- yang dinukil oleh orang yang sangat majhul ini (Abdulloh bin Robi' Syaikhnya Abu Umar) pada kitab beliau (At Ta'dil wat Tajrih):(dan demikian pelaku bid'ah disebutkan dengan bid'ahnya agar manusia tidak tertipu dengannya sebagai penjagaan dan pembelaan terhadap syari'ah, dengan tidak menyebutkan 'aib-'aib mereka yang lain karena itu termasuk dari bab ghibah, Sufyan At Tsaury berkata tentang pelaku bid'ah: disebutkan dengan bid'ahnya dan tidak perlu disebutkan selain itu).

        Karena maksud dari kalam ini adalah untuk menjarh Ahlul bida'. jadi dicukupkan dengan menyebutkan sebab apa dia dijarh dengannya, dengan (menyebut) bid'ahnya dan yang dijarh adalah yang berkaitan dengan keadilannya bukan yang berkaitan dengan aib dan cacat anggota badannya. Adapun aib-aib selain itu maka tidak perlu digubris, misalnya seorang yang menjarh mengatakan: Fulan Hizbi dan pendek, dan selain itu dari aib-aib, karena hal itu tidak seyogyanya untuk disebut –kecuali aib tersebut merupakan qorinah (faktor pendukung/penyerta) penyimpangannya sebagaimana ucapan mereka Fulan buta mata dan hatinya- dan si majhul ini tidak menyebutkan satu misalpun dari ucapan Syaikh -hafidzohulloh- tentang hal ini sehingga kami bisa menerapkan ucapan Al Bajiy terhadap ucapan Syaikh Yahya -hafidzohulloh-, dia menyebutkan ucapan ini hanya untuk membuat kerancuan terhadap pembaca!! Adapun jikalau aib-aib tersebut terkait dengan keadilan pembawa bid'ah itu dan merupakan suatu hal yang menjatuhkan kredibilitasnya maka tidak mengapa menyebutkannya seperti penjarh mengatakan: Fulan hizby pencuri atau zalim atau semisalnya,

Imam Ibnu Rajab : berkata di (Al Farq bainan Nashihah wat Ta'yir): "Adapun ahlul bida' dan dholal (pelaku kesesatan), dan siapa yang menyerupai ulama sedang ia bukan dari golongan mereka, maka boleh menjelaskan kebodohan mereka, dan menampakkan aib-aib mereka sebagai bentuk peringatan bagi siapa yang mengikuti mereka), dan nash ini jelas untuk membuktikan apa yang telah lewat penyebutannya, bahkan para imam (salaf) dahulu menganggap mencari-cari kejelekan ahlul bid'ah merupakan keutamaan sebagaimana akan datang pada biografi sebagian dari mereka."

2-     Para hizbiyyin ini pura-pura bodoh atau mereka benar-benar bodoh dengan tujuan salaf dalam mencela dan bersikap keras terhadap ahlul ahwa yang di antaranya untuk menghinakan dan memperingatkan manusia agar tidak mengikuti (meneladani) mereka. dan untuk menghinakan dan menjauhkan manusia darinya, penjarh butuh –dan bukan disetiap waktu- menggunakan lafadz-lafadz (ungkapan) yang keras untuk mencapai tujuan itu, Al 'Allamah Robi' bin Hadi Al Madkholi -hafidzohulloh- berkata: (Akan tetapi kita membedakan antara ahlus sunnah dan ahlul bid'ah, dan sebagaimana Ibnu Hajar dan selainnya berkata: Mubtadi' (haknya/layaknya) untuk dihinakan tanpa adanya penghormatan, dihinakan karena niatnya jelek, mubtadi' pengekor hawa nafsu sebagaimana Alloh Tabaroka wa Ta'ala berkata:

﴿ هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آَيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ

            "Dia-lah (Alloh) yang menurunkan kepada engkau kitab (Al Qur'an) di antara (isi)nya ayat-ayat muhkamaat itulah ummul (pokok-pokok isi) kitab dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat adapun orang-orang yang di hati mereka kecondongan kepada kesesatan, mereka akan mengikuti sebagian dari ayat-ayat yang mutasyabih untuk menimbulkan/mencari fitnah dan mencari-cari ta'wilnya, padahal tiada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Alloh." [QS. Ali 'Imron: 7]

Rosululloh ص berkata:

(( فإذا رأيت الذين يتبعون ما تشابه منه فأولئك الذين سمى الله فاحذروهم ))    

            "Apabila engkau melihat orang-orang yang mengikuti/mencari-cari sebagian dari ayat-ayat yang mutasyabih maka merekalah yang Alloh sebutkan dan hendaknya engkau berhati-hati dari mereka!"…mereka layak untuk diusir dan dihinakan …).(Al Ajwibatis Salafiyyah 'ala Asilati Abi Rowahah Al Manhajiyyah) hal.(17-18).

             Seandainya engkau mencermati wahai saudaraku pembaca -waffaqokalloh- biografi-biografi para imam (salaf, pent) niscaya engkau akan dapati sesuatu yang dapat menentramkan hatimu dari perihal itu mengenai jalan dan metode meraka dalam menyikapi ahlul bida', di antaranya adalah biografi Imam Ahmad bin 'Aunilloh Abi Ja'far Al Andalusi (378H) dari (Tarikh ibni 'Asakir)(5/118)disebutkan di situ:

(كان أبو جعفر أحمد بن عون الله محتسبًا على أهل البدع غليظًا عليهم مذلاً لهم طالبًا لمساوئهم مسارعًا في مضارهم شديد الوطئة عليهم مشردًا لهم إذا تمكن منهم غير مبقٍ عليهم وكان كل من كان منهم خافيًا منه على نفسه متوقيًا لا يداهن أحدًا منهم على حال ولا يسالمهم وإن عثر على منكر وشهد عليه عنده بانحراف عن السنة نابذه وفضحه وأعلن بذكره والبراءة منه وعيّره بذكر السوء في المحافل وأغرى به حتى يهلكه أو ينزع عن قبيح مذهبه وسوء معتقده ولم يزل دؤوبًا على هذا جاهدًا فيه ابتغاء وجه الله إلى أن لقي الله عز وجل).

(Dahulu Abu Ja'far Ahmad bin 'Aunilloh adalah orang yang senantiasa mengharapkan pahala dengan bersikap keras terhadap ahlul bida' dan menghinakan mereka, mencari-cari kejelekan-kejelekan mereka, bersegera untuk memudharatkan mereka, sangat keras dalam menekan (memerangi) mereka, jika ia memiliki kemampuan untuk mengusir mereka ia tidak akan segan-segan untuk mengusir mereka, sehingga dahulu siapa saja yang termasuk dari mereka (ahlul bida') menyembunyikan dan menyelamatkan dirinya (karena takut –pent) darinya, ia tidak pernah bersikap lunak kepada siapapun di antara mereka, tidak mau berdamai dengan mereka, dan apabila ia mendapati suatu kemungkaran dan menyaksikan (pada seseorang -pent) padanya penyimpangan dari sunnah ia menetangnya dan membongkar aibnya dan terang-terangan menyebut namanya, berlepas diri darinya, mencercanya dengan sebutan kejelekan di halayak ramai dan memusuhinya sampai ia celaka/meninggal atau meninggalkan pendapatnya yang buruk serta aqidahnya yang jelek, dan terus hal ini menjadi kebiasaan beliau dengan gigih beliau melakukannya hanya mengharap wajah Alloh sampai bertemu dengan-Nya 'Azza wa Jalla).

            Maka lihatlah semoga Alloh membimbing engkau!! dan bandingkanlah dengan apa yang dituduhkan oleh 'hizbi baru' ini kepada Syaikh Yahya dengan syiddah (keras/golongan garis keras, pent) padahal keberadaan sikap keras beliau terhadap ahlul bida' itu belum sampai ke tingkat sikap keras para salaf, baru segitu saja engkau mendapati mereka murka dengan jalan beliau!! hal ini kusebutkan supaya engkau mengetahui bahwa mereka akan lebih tidak ridho lagi dengan manhaj salaf!! Wallohul musta'an.

            Dan di antara penyelisihan yang terdapat pada ucapan mereka adalah:

3-     menuduh Syaikh Yahya -hafidzohulloh- bahwasanya tujuan beliau dengan sikap keras tersebut adalah untuk memuaskan diri ketika menjarh ahlul bida'!! sebagaimana pada ucapan mereka hal. 18: (Dan tidak boleh dalam menjarh sampai ke tingkat mengolok-ngolok dan untuk memuaskan diri)!!, apa yang telah lewat penyebutannya cukup untuk mematahkan ucapan ini, bahwasanya tidak seorangpun dari ahlus sunnah menilai miring siapa saja di antara mereka yang memperlakukan ahlul bida' dengan keras, bahkan tidaklah mengucapkan ucapan ini melainkan ahlul ahwa, karena ahlus sunnah sebagaimana ucapan yang dikatakan oleh Syaikhul Islam: (mereka adalah) orang yang paling mengetahui al-haq dan dan paling merahmati makhluk), dan termasuk rahmat terhadap ahlul bida' adalah dengan bersikap keras terhadap mereka –jika kondisi menuntut untuk itu- supaya manusia berhati-hati dari mereka, agar dosa-dosa mereka tidak makin menumpuk karena manusia yang mengikuti (bid'ah) mereka juga barangkali mereka mau ruju' dari kebid'ahannya (disebabkan sikap keras itu, pent), bahkan juga termasuk rahmat terhadap orang yang terjerumus dalam kesalahan dari ahlus sunnah adalah dijelaskan kesalahannya agar kesalahannya tidak diikuti oleh orang lain, Abu Sholeh Al Farro' berkata:

(حكيت ليوسف بن أسباط عن وكيع شيئًا من أمر الفتن فقال: ذاك يشبه أستاذه  -يعني الحسن بن حي- فقلت ليوسف: ما تخاف أن تكون هذه غيبة؟ فقال لم يا أحمق!! أنا خير لهؤلاء من آباءهم وأمهاتهم أنا أنهى الناس أن يعملوا بما أحدثوا فتتبعهم أوزارهم، ومن أطراهم كان أضر عليهم). (السير) (7/364).

(Aku mengisahkan sesuatu kepada Yusuf bin Asbaath tentang Waki' dari prihal fitnah maka ia berkata: itu menyerupai ustadznya –dia memaksudkan Hasan bin hay- kukatakan kepada Yusuf: Apakah engkau tidak takut bahwa ucapanmu ini adalah ghibah? ia menjawab tidak ya ahmaq (wahai dungu)!! Saya (pada hakikatnya itu) lebih baik bagi mereka daripada ayah-ayah dan ibu-ibu mereka, (karena) aku mencegah manusia dari mengamalkan apa yang mereka buat-buat (muhdats) yang akan mengakibatkan dosa-dosa mereka (yang mengikuti krsalahan tersebut) kembali kepada mereka (yang diikuti), karena yang (berlebihan dalam) memuji mereka itulah yang akan membahayakan mereka). (As-Siyar) (7/364).

Dan inilah yang sering kami dengar dari Syaikh kami -hafidzohulloh- mengucapkannya:

(نحن بتحذيرنا من أهل البدع إنما نريد لهم بذلك الخير فكم من الأوزار التي يجنونها باتباع الناس لهم، وبالتحذير منهم نقلل عليهم من ذلك الكثير). أو كما كان يقول حفظه الله.

 (Kami dengan mentahdzir ahlul bida' hanyalah menginginkan dengannya kebaikan bagi mereka, betapa banyak dosa-dosa yang ia petik akibat manusia mengikuti mereka, sementara dengan kami mentahdzir mereka akan mengurangi banyak dari dosa-dosa yang akan mereka pikul). atau sebagaimana yang beliau -hafidzohulloh- katakan.

            Adapun berdasarkan tolak ukur kelompok Abdurrohman berarti para salaf ن adalah orang yang suka memuaskan dirinya ketika menjarh ahlul bida'!! Karena mereka (para salaf) dahulunya bersikap keras terhadap ahlul ahwa dengan memperbanyak menjarh dan bersikap keras terhadap mereka!!

﴿فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ  [الحج/46]

      "Karena sesungguhnya bukan mata yang buta, tapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada."

            Padahal majhul ini pada hal (18) telah meruntuhkan sendiri kebanyakan sisi intiqod (kritikan) mereka terhadap Syaikh Yahya pada masalah ini dengan ucapannya: (dan Syaikh Yahya –Ashlahahullôh- terkadang tidak komitmen dengan kaidah ilmiyyah ini!!..) di mana mereka terang-terangan mengakui bahwa hal itu yakni berlarut-larut dalam menjarh ahlul bida' hanya timbul sedikit dari Asy-Syaikh dan hal itu menyelisihi kaidah di sisinya dengan ucapannya: (terkadang)[3]!!, Maka mereka sendiri menerangkan betulnya manhaj (metode) Syaikh dalam hal itu walhamdulillah.

            Dan sekarang kita akan menyebutkan untuk anda wahai para pembaca beberapa contoh dari jarh Imam Al-Wadi'i -rohimahulloh- terhadap ahlul bathil dari kitab (Al-Majruhun 'Inda Al Imam Al-Wadi'i), dan bandingkanlah dengannya apa yang dinukilkan oleh hizbil maftun itu dari jarh Asy-Syaikh (Yahya) dan akan jelas bagimu dalam penjabaran ini siapa sebenarnya yang mengikuti manhaj para Imam (salaf) dan siapa yang mumayyi' (tidak tegas dalam memegang) manhaj salaf ini:

-Beliau : berkata hal (47) ketika menjarh Abdillah bin Mahfudz Al-Haddad mufti Hadhromaut:

(دجال الضال الصوفي المبتدع الزائغ المنحرف).

(Dajjal Ad-Dhool (yang sesat), As-Shufy, Al-Mubtadi', Az-Za'igh (condong kepada kebatilan), Al Munharif (menyimpang).

 -Dan beliau berkata hal.(58-59) ketika menjarh Abdul Karim Zaidan:

(فويسق, حالق اللحية, لابس البنطلون والكرفته, لا تميز  بينه وبين النصراني، وقد أنكر علي هذا القول ولكن سأقوله رغم أنفك أيها المنكر ولا أقصد أنه نصراني ولكن أقصد أن شكله شكل نصراني)

(Fuwaisiq (fasik kelas rendah), Haliqul lihyah (memotong jenggotnya), memakai bantholun (celana pantalon) dan dasi, kamu tak dapat membedakan antara dia dengan nashroni, dan ada yang mengingkari ucapanku ini, akan tetapi aku katakan rogima anfuk (celaka/merugi/walaupun kamu benci) wahai para pengingkar aku tidak memaksudkan bahwa dia adalah nashoro akan tetapi aku maksudkan bahwa kelakuan seperti ini adalah model nashroni), dan beliau menegaskan:

(هو قمامة أتي به إلى اليمن).

(dia adalah sampah yang dibuang ke Yaman).

-Dan beliau berkata hal. (163) ketika menjarh Muhammad bin Ahmad Al-Hasan:

(كان ظالمًا غشومًا سفاحًا بطاشًا).

(dia adalah pelaku kezaliman, penipu, penumpah darah dan lalim).

-Dan beliau berkata hal (68):   

  (ضال, ملحد, ملبس, لا يعتمد عليه, انحرف عن علم...).

(Sesat, menyimpang, pembuat kerancuan, tidak bisa dijadikan sandaran, menyimpang dari ilmu…)

-Dan beliau berkata hal. (167) ketika menjarh As-Sayyid Yusuf Al-A'jamy:

(وليس من السيادة في شيء بل رافضي زائغ نخشى أن يكون يهوديًا)

(Dan bukan dari golongan sayyid (keturunan Nabiص ) sama sekali, bahkan dia adalah Rofidhi (pengikut golongan Rofidhoh) Zaigh (terpelanting dari kebenaran) kami khawatir dia akan menjadi seorang Yahudi), dan beliau berkata:

(هو ذلك الرافضي بل الشيطان الرجيم).

(Dia itu Rofidhiy bahkan dia Syaithon yang terkutuk).

-Dan beliau berkata hal. (162) ketika menjarh Husain bin Muhammad Al-Mahdi:

(دجال من الدجاجلة).

(Dajjal dari Dajjal-Dajjal yang ada)

-Dan beliau -rohimahulloh- juga berkata ketika menjarh Abdul Husain Al Muwsiy hal. (165):

(إمام من أئمة الضلال قطع الله دابره).

(Pemimpin dari pemimpin-pemimpin kesesatan, semoga Alloh musnahkan tipu dayanya).

Dan ungkapan-ungkapan (jarh) Al-Imam Al-Wadi'i : terhadap Ahlul bathil yang sejenis ini banyak sekali. 

            Maka kami katakan kepada Abdurrohman dan kelompoknya: (Maka kelompok manakah dari kedua kelompok yang telah merubah dan berubah dari jalan Al-Imam Al-Wadi'i –rohmatullohi 'alaih-??!!.

            Kemudian kami sebutkan juga untuk anda wahai para pembaca sebagian jarh salafush sholeh terhadap ahlul bida' dan selain mereka, yang tertera pada kitab-kitab mereka –rohimahumulloh Ta'ala-:  

أكذب من روثة حمار الدجال، لو كان في مطبخ امتلئ ذبابًا، كأنه جرو كلب ، مثل الحمار،

Dia lebih pendusta daripada tahi keledai Dajjal, seandainya dia di dapur niscaya akan dikerumuni dengan lalat, dia seperti anak anjing, seperti keledai,

أظن أن الشيطان تبدى على صورته،كان صاحب حمام، طبل، طفل، إذا مررت به فارجمه أو اصفعه، فلان يستأهل أن يحفر له بئر فيلقى فيه، ما كان عندنا إلا عرة، أكذب من حماري،

Aku mengira Syaithon menjelma menjadi dia, pemelihara burung merpati (suka/disibukkan dengan bermain burung), gendang, anak kecil, kalau kamu melewatinya maka lempar atau tamparlah dia, Fulan pantasnya untuk digalikan sumur lalu dilempar ke dalamnya, dia di sisi kami tidak lain kecuali tahi binatang (celenthong), dia lebih pendusta daripada keledaiku,

 شيطان يقص، أخزى الله فلانًا ومن يسأل عنه، بالت على حديثه السنور، مغفل لا يحسن قبيله من دبيره، كان يلعب به الصبيان، حيوان متهم، لا يساوي دستجة بقل، بعرة أحب إلي منه...

Syaithon yang bercerita, semoga Alloh menghinakan Fulan dan siapa yang menanyakannya, kucing telah mengencingi haditsnya, orang linglung tidak bisa membedakan depannya dari belakangnya, anak-anak kecil dulu mempermainkannya, hewan yang tertuduh, dia tidak senilai dengan bungkusan sayur, kotoran hewan lebih aku sukai daripada dia…

            Dan ungkapan-ungkapan para imam pada bab ini sangatlah banyak!![4] Maka bandingkanlah ungkapan-ungkapan para salaf dengan apa yang dinukilkan oleh kelompok Abdurrohman dari ungkapan-ungkapan Asy-Syaikh Yahya dalam menjarh, niscaya akan jelas bagimu kelompok manakah yang telah merubah dan berubah dari metode salafush sholih??!!! selesai

            * Asy-Syaikh Muqbil : berkata sebagaimana di "'Ilamul Ajyal…" hal 355-356:

(( ألحّ عليَّ في الرد على القرضاوي مراراً حتى سمعت ما لا يجوز أن يُسكت عنه, وسميت الرد "إسكات الكلب العاوي يوسف بن عبد الله القرضاوي" سيقول بعض الحزبيين: عالم من العلماء, وسميت كلباً عاوياً. أما هذه فكبيرة يا أبا عبد الرحمن عالم من العلماء ومفتي القطر؛ اسمعوا إلى قول الله عز وجل: ﴿ وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آَتَيْنَاهُ آَيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ * وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ [الأعراف : 175 ، 176] و ﴿ مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ [الجمعة : 5] )) [البركان 109][5]

            "Aku berkali-kali diminta untuk membantah Al-Qordhowi, sampai akhirnya aku mendengar ucapannya yang tidak boleh didiamkan lagi, aku menamai bantahan itu "Iskatul Kalbil 'Awi Yusuf bin 'Abdillah Al-Qordhowi" (artinya: "Mendiamkan Anjing yang Menggonggong Yusuf bin 'Abdillah Al-Qordhowi"), sebagian hizbiyyun akan mengatakan:"Seorang 'Alim dari Ulama, kamu menamainya Anjing yang menggonggong?!, adapun ini wahai Aba 'Abdirrohman (kunyah Asy-Syaikh Muqbil :), adalah kabiroh (dosa besar), seorang 'Alim dari Ulama dan dia juga seorang mufti negara", (beliau : berkata): Dengarkanlah perkataan Alloh :

﴿ وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آَتَيْنَاهُ آَيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ * وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ [الأعراف : 175 ، 176]

            "Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah kami beri ayat-ayat kami kemudian dia meninggalkannya, lalu dia diikuti oleh Syaithon maka jadilah dia termasuk dari orang-orang yang sesat. dan kalau kami menghendaki sungguh kami akan mengangkat (derajat)nya dengan ayat-ayat tersebut, namun ia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya, maka jadilah perumpamaannya bagaikan anjing jika kamu menguasainya ia menjulurkan lidahnya dan apabila kamu membiarkannya dia (juga) menjulurkan lidahnya, demikian itulah permisalan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berfikir."

Dan (perkataanNya:)

﴿ مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ [الجمعة : 5]

            "Perumpamaan orang-orang yang dibebankan untuk mengamalkan At-Taurat kemudian mereka tidak menunaikannya adalah bagaikan keledai yang membawa kitab-kitab tebal, amat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Alloh dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim." Selesai

            *Asy-Syaikh Robi' -hafidzohulloh- berkata pada muqoddimah beliau terhadap kitab "Ijma'ul Ulama 'alal Hajr wat 'Tahdzir min Ahlil Ahwa" karya Kholid Adz-Dazufairy:

الفصل الثاني: الشدة على أهل البدعة منقبة وليست مذمة، ذكر فيه  من قيل فيه من السلف كان شديدًا في السنة أو شديدًا على أهل البدع والأهواء وذلك ردًا على من يأمر بموادعه أهل البدع أو من وصم السلفيين بالشدة عليهم وذكر فيه أكثر من أربعين أنموذجًا على ذلك ، هذا مع العلم أن أهل البدع يطلقون وصف الشدة على من ليس كذلك بقصد التنفير منه ومن الحق الذي يدعون إليه ويذب عنه. اهـ

            "Pasal kedua: (Sikap) keras terhadap Ahlul Ahwa adalah keutamaan dan bukanlah hal yang tercela, dia menyebutkan padanya siapa yang dikatakan dengan "keras/kuat" dalam (memegang) sunnah atau tegas terhadap ahlul bida' dan ahwa dan demikian itu sebagai bantahan terhadap siapa yang menyeru untuk mengurangi sikap keras terhadap ahlul bida' atau yang menghukumi salafiyyin dengan "syiddah" terlalu keras terhadap mereka lalu beliau menyebutkan padanya lebih dari empat puluh contoh tentang itu, disamping itu ahlul bida' itu melontarkan ucapan ini terhadap siapa yang tidak demikian halnya dengan maksud melarikan manusia darinya, dan dari al-haq yang ia menyeru kepadanya dan membelanya. selesai.[6]

            Beliau juga mengatakan ketika menanggapi sindiran Abul Hasan Al-Mishry berkata:

وقد شنع السلف على أهل البدع وكتبهم مشحونة بذلك على الأفراد والجماعات فقد لا يدفع شرّهم إلا بهذا السلاح، وقد أمر رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم حسَّاناً بهجاء أعداء الله وقال: (إنه أشد عليهم من وقع السهام)، ولست أمنع من استعمال اللين والحكمة، كما لا أمنع من استعمال الشدة مطلقاً ولكل مقام مقال، فالشدة على أهل الباطل قد تصل إلى الجلد وقد تصل إلى القتل وقد تكون تعزيراً بالكلام، ولشيخ الإسلام في هذا التفصيل كلام جيد. ("انتقاد منهجي"/"مجموع الردود"/ ص310-311)

"Dan para Salaf telah mencerca keras ahlul bida', dan kitab-kitab mereka penuh dengan cercaan keras terhadap individu-individu dan jamaah-jamaah. Terkadang tak bisa kejahatan ahlul bida' ditolak kecuali dengan senjata ini. Dan Rosululloh Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memerintahkan Hassan untuk menyerang musuh-musuh Alloh dengan syairnya, dan beliau berkata: "Sesungguhnya syair tersebut lebih keras bagi mereka daripada tusukan panah-panah." Dan bukannya aku melarang orang untuk bersikap lembut dan hikmah, sebagaimana aku tidak melarang untuk menggunakan kekerasan secara mutlak. Dan pada setiap tempat ada perkataan yang sesuai dengannya. Maka kekerasan kepada ahlil batil terkadang bisa sampai pada cambukan, dan terkadang bisa mencapai tingkatan pembunuhan. Dan terkadang hukuman itu bisa dengan ucapan. Dan Syaikhul Islam dalam bab ini ada perincian yang bagus." ("Intiqod Manhajiy" /Majmu'ur Rudud/hal. 310-311) –dinukil dari terjemah Al-Akh Abi Fairuz -hafidzohulloh-  

 

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك



[1] Lihat juga "Mukhtashor Bayan" hal. 73 ,atau alih bahasa "bongkar tuntas" hal.176.

[2] Lihat "Ijma'ul Ulama 'alal Hajr wat Tahdzir min Ahlil Ahwa" hal. 55  

[3] Padahal kebanyakan contoh-contoh yang ia datangkan untuk membuktikan bentuk keterlaluan Asy-Syaikh dalam menjarh Ahlul Bathil, mereka tidak memiliki dalil sedikitpun padanya!! karena seringnya beliau mencukupkan diri dengan menyebut satu atau dua sebab (saja) dalam menjarh!! Hanya saja kebathilan itu membutakan dan menulikan!!. [Al-Akh Abu Hatim Al-Jazairy -hafidzohulloh-].

 

 

[6] Ana nukil dari malzamah Al-Akh Al-Jahdari -hafidzohulloh-.

1 comment:

Anonymous said...

masyaallah, sesungguhnya Agama ini terpelihara dengan adanya jarh wa ta'dil, syukran